GUSTI ALLAH 'MBOTEN SAREE
06 Apr 2022 21:28 • 2845 dibaca
By : Jiddah Zainab
Perputaran hidup manusia bagai rotasi bumi dengan mataharinya, tak ada kuasa bumi untuk menolak datangnya matahari. Begitupun matahari tak punya kuasa untuk menolak bersinar bagi bumi di pagi hari dan pergi kembali dimalam harinya.
Orang bijak berkata "Biarlah semua berjalan dengan takdirnya".. Bagi sebagian orang, kalimat ini terasa sangat pesimitis. Namun kalimat ini sarat dengan makna bahwa sekuat apapun daya dan upaya yang telah kita lakukan, ada 'tangan' lain yang amat sangat menentukan apapun yang terjadi dimuka bumi ini.
Namun demikian, terkadang banyak sekali dari manusia yang merasa angkuh untuk mengakui bahwa ada kekuatan lain yang lebih berkuasa terhadap setiap bagian dari ada dan usahanya.
Namun terlalu mudah untuk lupa asal kejadiannya, terlalu mudah untuk merasa bahwa apa yang didapat pastilah apa yang menjadi balasan atas usahanya, dan mungkin juga terlalu malu untuk mengakui berbagai kekurangan yang dimilikinya.
Walaupun pada dasarnya telah banyak cobaan yang telah ditimpakan disetiap helaan nafasnya, disetiap asa, hidupnya, disetiap bongkah keinginannya, terkadang tidak pula mampu membuatnya cepat tersadar untuk mengalah pada takdirnya.
Alih-alih menyadari segala kekurangan diri dengan tafakkur, berserah diri kepada sang Khaliq, yang terjadi malah menjadikan orang lain sebagai korban kepuasan nafsu amarahnya, hanya sekedar ingin menggambarkan betapa dirinya masih memiliki power untuk menindas orang lain, membuat orang lain merasa memiliki posisi jauh dibawahnya, membuat jiwa manusia lain berasa pada titik nadir dari lemahnya sebuah jiwa.
Post Power Syndrome, begitu banyak orang yang mengucapkannya. Sebagian orang menyatakan kalimat seperti itu adalah penyakit psychologis yang banyak menyerang manusia yang memiliki berhala bernama harta.
Berhala bernama harta ini merasuki tiap pori-pori jiwa manusia. Bahwa ukuran kesuksesan seseorang selalu berkaitan dengan harta. Bahwa ukuran kedudukan orang hanya dilihat dari harta, bahkan untuk menentukan jodoh atau pendamping hidupnya, yang menjadi tolak ukur juga hanya berhala ini.
Padahal, semua yang dimilikinya, bukan semata karena apa yang telah diusahakan oleh tangannya. Apa yang dimilikinya dahulu dan sekarang pun karena kuasa Rahman Rahim yang tak mampu dilihatnya. Seandainya pun yang terjadi sekarang adalah sulit diraihnya hal yang dahulu begitu mudah di raup dengan powernya, itu memang jalan takdir yang harus dilaluinya. Jangan hanya bisa marah, gundah, resah, dan menindas orang dengan membabibuta.
Ingat !!!
Gusti Allah 'Mboten Saree
Qotrun Nada, 25 April 2011

Komentar