BreakingUpdate kegiatan pesantren, kajian, pengumuman, galeri, dan agenda terbaru tersedia di Portal Qotrun Nada.
Info
🔴 🔴
Sajian Utama

madrasah ramdhan

06 Apr 2022 16:22 • 1026 dibaca

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc.

Edisi April 2022

Bulan Ramadhan sedang menyapa kita. Penantian dan harapan kita agar kembali disapa dan dikunjungi Ramadhan sudah dikabulkan. Tentunya menyimpan jutaan memori dan kenangan pada setiap momen di Ramadhan tahun lalu; bersama orang-orang terdekat yang tidak lagi kita jumpai ditahun ini. Mereka menikmati “sapaan" dan “kunjungan"nya di dimensi yang lain, bersama hamba Allah yang lain; meninggalkan kita untuk sementara waktu. Sudah sepatutnya kita menyambut kunjungan Ramadhan ditahun ini dengan penuh kegembiraan dan semangat, karena sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam: menyambut tamu dengan suka cita adalah sebagian dari iman.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam merangkum jenjang yang terkandung dalam Ramadhan menjadi tiga:

Pertama; Shiam yang berarti Berpuasa. Umat islam dituntut untuk berpuasa dengan sempurna, sesuai dengan sabda Nabi bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi menahan panca indera dan hati kita khususnya, serta tubuh kita seluruhnya dari berbuat dosa. Dengan kata lain, tidak akan diterima pahala orang yang berniat puasa kecuali dia mengajak seluruh anggota tubuhnya untuk berpuasa dari apa yang dilarang  Allah dan Rasul-Nya.

Kedua; Qiyaam yang berarti terjaga diwaktu malam. Istilah “terjaga” agaknya sangat tepat dalam memaknai kata Qiyaam. Seseorang yang bangun dari tidurnya diwaktu malam , bahkan sekalipun dia beribadah maka belum tentu mendapat kategori “terjaga" jika hatinya masih terpaut kepada selain-Nya. Linangan Air mata, renungan hati, dan rasa syukur dalam munajat sangat diperlukan demi terwujudnya makna “terjaga". Bersyukur merupakan derajat paling tinggi. Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam Munajatnya beliau berdiri “terjaga” sepanjang malam penuh tangisan dan renungan tidaklah menginginkan apa-apa kecuali sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan.

Ketiga; Tilawatul Qur'an yang berarti membaca Al Quran. Kita perlu memprioritaskan waktu untuk “bermeditasi" dan “berbicara" dengan Sang Pencipta melalui akses Kalam-Nya. Solusi atas segala macam persoalan hidup yang sangat berbelit sudah Tuhan siapkan untuk kita. Tadabbur adalah tujuan penting mengapa Allah memerintahkan kita untuk “membaca" kalam-Nya. Membacanya tidak hanya sebatas dengan lisan; ada banyak cara “membaca" Al Quran. Yaitu pikiran, hati, mata, telinga, dan seluruh organ tubuh kita harus senantiasa tergerak untuk “membaca" firman Tuhan. “manusia Al Quran” adalah orang-orang yang senantiasa “membaca”nya setiap saat, dengan seluruh anggota tubuhnya, dan dengan membuka mata hatinya. Ketika Sayyidah Aisyah ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam, beliau menjawab: akhlak Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah Al Quran.

Ramadhan bukan sekadar tamu, melainkan sebagai Madrasah yang sarat akan pendidikan jasmani dan rohani. “wisuda" bagi para “sarjana Ramadhan” adalah ketika malam lailatul qadr; yang sengaja Allah simpan seraya menghadiahkannya khusus bagi para pencari-Nya. Mendapatkan malam lailatul Qadr memang penting, namun meniti jalan untuk mendapatkannya itu jauh lebih penting, yaitu dengan Ridho dari-Nya. Semoga Allah berkenan memasukkan “Ramadhan” kedalam lubuk hati kita agar selalu kita bawa selamanya!

Komentar

Tinggalkan Komentar